Artikel
SEJARA DESA WONOKERTO
Desa Wonokerto adalah salah satu desa diantara 26 desayang ada di Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik. Desa Wonokerto terdiri dari 17 RT ( Rukun Tetangga) dan 3 RW ( Rukun Warga) terletak di wilayah Kabupaten Gresik dan berbatasan dengan Kebupaten Lamongan.
Konon, menerut sesepuh Desa Wonokerto dulu bernama “SLEBUR” dinamakan demikian karena tempat ini merupakan tempat peleburan semua jenis kesaktian. Disisi lain ada yang mengatakan bahwa segala jenis sesuatu yang dimasukkan ke dalam sumur tua (Sumur Mili) yang terletak di sebelah selatan desa) akan selalu sleleb (hilang) kemudian barang tersebut akan timbul di desa tetangga sehingga desa tetangga dinamakan BULANGAN.
Pada tahun 1850-an para tokoh masyarakat desa Slebur berembug (mengadakan musyawarah) untuk mengganti nama desa (SLEBUR – dulu) dengan melakukan tawajjuh (sowan) ke kediaman Kyai Kanjeng Sepuh yang saat itu menjabat sebagai Adipati di Wilayah Kadipaten Sidayu, selain menjabat sebagai Adipati Kyai Kanjeng Sepuh juga ada seorang ulama besar yang cukup disegani dan dihormati karena perhatiannya cukup besar pada masyarakat kecil (kaum mustadhafin).
Sesampainya di sana para tokoh masyarakat desa Slebur mengutarakan maksud dan tujuan mereka sowan ke Kyai Kanjeng Sepuh Sidayu yang intinyasupaya diberi atau dibuatkan nama untuk desa mereka (Slebur-dulu), dialog panjang pun terjadi antara Kyai Kanjeng Sepuh dan para tokoh masyarakat Slebur. Akhirnya Kyai Kanjeng Sepuh kerso ngatur (memberi/mengganti/membuatkan) nama “WONOKERTO” sebagai pengganti Slebur, yang mempunyai arti Wono = Alas, Kerto = Ramai dengan harapan tempat itu dapat berkembang dan ramai dikunjungi orang.
Belum terdapat catatan jelas dan akurat tentang sejarah desa Wonokerto secara holistic pasca penggantian nama desa menjadi Wonokerto. Baru pada tahun 1962-an pada masa kepemimpinan Bpk. H Sukarso Abd Rohim Sebagai Petinggi-sebutan orang dulu untuk seorang Kepala Desa – Desa Wonokerto mengalami perubahan yang sangat signifikan, perubahan besar-besaran baik sarana prasarana, kehidupan sosial maupun budaya. Perubahan yang hingga sekarang masih sangat terkenang adalah pembenahan tata ruang serta pembenahan jalan.
Di sisi lain, ide briliant dan cemerlang pun muncul manakala petinggi melihat keadaan masyarakat Desa Wonokerto saat itu yang masih sangat membutukan figur yang mumpuni untuk mengatasi persoalan – persoalan keagamaan dan sekaligus sebagai Guru dan rujukan agama. Maka tepatnya pada tahun 1971 H. Sukarso Abd Rohim mempunyai inisiatif untuk mendatangkan seorang yang mengerti akan agama, maka dipilihlah dan diajaklah A. MARZUQI _ putra desa namun bertugas di Tuban sebagai PNS – oleh H. Sukarso Abd Rohim untuk pulang kampung dan dinobatkan sebagai Kyai, di samping putra desa pun karena keilmuannya tentang agama yang berada di atas rata-rata. Sehingga pada masa itu desa Wonokerto terkenal dengan DESOE PORO SANTRI (akeh seng pinter ngaji), sejak itulah desa Wonokerto mengalami kemajuan yang sangat pesat hingga sekarang.
Desa Wonkoerto dari masa ke masa telah mengalami beberapa pergantian kepemimpian, nama cerita tentang kepemimpinan sebelum masa H. Sukarso Abd Rohim kurang dapat tercover karena terbatas sumber yang akurat.